Komoditi, Budaya, Akal Sehat: Media Penelitian dan Paradigma Dialog
Eileen R. Meehan
Penelitian media menurut Gaul Caesar dapat dibagi menjadi tiga bagian, yakni yang pertama tentang studi produk media sebagai artefak budaya. yang kedua tentang studi individu, kelompok, dan masyarakat yang berinteraksi dengan, merespons, menafsirkan, atau mengabaikan produk media tersebut, studi kedua ini berkaitan dengan bagaimana manusia menanggapi adanya produk media. Dan yang ketiga adalah studi tentang individu dan institusi yang membangun, mengatur, dan mengisi lingkungan simbolis dengan produk media. Berdasar pada pendapat Gaul caesar tersebut kemudian Eileen R Meehan dalam jurnalnya yang berjudul “Commodity, Culture, Common Sense: Media Research and Paradigm Dialogue” juga membagi dasar cara penelitian media untuk alasan praktis dan politis. Masalah praktis ditujukan untuk mengetahui bahwa ilmuwan media berpusat pada produk media, khlayak media, dan institusi media atau beberapa kombinasi dari kategori tersebut terlepas dari bidang penelitian para ilmuwan tersebut. Secara politis, rencana tiga pihak ini terpisah antara fenomena yang diteliti dari paradigma peneliti. Sehingga dapat memungkinkan 2 perbedaan penting yakni paradigma yang bersifat antitetis meskipun mempunyai fokus penelitian, dan sebaliknya yakni fokus penelitian yang berbeda dan tidak memerlukan paradigma antitetis. Sebagai contoh dialog diantara penilaian oleh pakar ekonomi politik dan ilmuwan industri media tampaknya pasti akan gagal, hal ini dikarenakan adanya perbedaan dari pandangan kedua pihak. Seperti yang dikemukakan Myrdal (1969) menyebut komitmen paling dasar dan praduga etis yang mendasari paradigma, mendorong pandangan dunia yang berlawanan. Namun disisi lain, studi budaya dan ekonomi politik mengklaim memiliki penaksiran kritis yang sama, namun berfokus pada objek penelitian yang berbeda. Dari kedua sisi tersebut maka yang perlu dipertanyakan adalah apakah dialog antara studi budaya dan ekonomi politik mungkin terjadi ?
Eileen R. Meehan dalam jurnal tersebut mengemukakan bahwa dialog semacam itu mungkin untuk dilakukan, jika sebelumnya kita mengenali terlebih dahulu batasan yang membuat perpecahan dalam studi budaya antara ilmuwan kritis dan ilmuwan perayaan. Dalam memahami hal tersebut Eileen R. Meehan membuat sketsa yang membahas persimpangan kedua pendekatan ini dari pemeriksaan terkait salah satu debat ritual antara studi budaya dan ekonomi politik dan mengintegrasikan hasilnya dengan sebuah artikel oleh sarjana budaya Carol A. Stabile (1995) yang mencontohkan studi budaya kritis dan secara langsung mengkritik model perlawanan yang sangat penting di kamp perayaan. Dari hasil studi tersebut Eileen R Meehan menyimpulkan bahwa dialog antara para ilmuwan yang berorientasi kritis tidak hanya mungkin, namun penting untuk penjelasan yang memadai tentang artefak media, khalayak, dan institusi. Sehingga dengan mengidentifikasi dialog yang memungkinkan tersebut diharapkan dapat mencetak tenaga kerja yang lebih produktif. Kemudian Eileen R. Meehan mengilustrasikan hal ini pada beberapa musyawarah.
MUSYAWARAH STUDI KRITIS KOMUNIKASI MASSA : SUARA DAN KEGERAMAN
Pertukaran intelektual dalam Studi Kritis dalam Komunikasi Massa (1995) memberikan contoh bagus tentang pertarungan ritual yang disamarkan sebagai debat yang beralasan. Esai Garnham, "Studi Ekonomi dan Budaya Politik: Rekonsiliasi atau Perceraian?" (1995a) mengemukakan bahwa jawaban atas pertanyaan retorisnya adalah "perceraian,". Bagi Garnham, studi budaya telah meninggalkan akarnya dalam Marxisme dan ekonomi politik dengan mengabaikan "bagaimana sumber daya untuk praktik budaya, baik material maupun simbolis, tersedia secara terstruktur melalui institusi dan rangkaian produksi, distribusi, dan konsumsi budaya yang dapat dikomodifikasi. "(halaman 71). Garnham juga menganggap bahwa pernyataan bahwa budaya masyarakat sangat berkaitan erat dengan kegiatan politiknya bersifat munafik. Kamudian untuk membuat suatu permasalahan Gernham beralih perlawanan pada Grossberg (1992) dan John Fiske (1992). Poin penting dari gernham adalah studi budaya menolak studi kritis tentang kapitalisme sebagai reduksionis apriori, bahkan ketika kapitalisme menempatkan budaya di eselon es yang lebih rendah dari komoditas hiburan yang utilitas utamanya diperoleh dari pendapatan, bukan keaslian ekspresi, tidak berhasil dalam enkulturasi, dan bahkan tidak Pemodelan perilaku konsumen yang sesuai. Perdebatan selanjutnya terus berlangsung sehingga Eileen R. Meehan berpikir bahwa setidaknya argumen-argumen tersebut menetapkan bahwa versinya tentang ekonomi politik terlalu reduksionis dan refleksif untuk studi budaya.
BAGAIMANA PANDANGAN ORANG LUAR ?
Carey sebagai orang luar menolak ketidak relevanan Garnham dan Grossberg. Carey (1995) menemukan bahwa studi budaya telah keliru didefinisikan oleh "hal yang dipraktikkan oleh Stuart Hall dan alumni lainnya dari Pusat Studi Budaya Kontemporer Birmingham" (hal 82). Dan Carey berpendapat bahwa inilah alasan perselisihan antara studi budaya dan ekonomi politik harus diabaikan
ALASAN MANIS DAN PENOLAKANNYA
Seperti yang diharapkan, rekonsiliasi ditemukan di dalam esai Murdock (1995). Strategi dari Murdock adalah menunjukkan bahwa studi budaya dan ekonomi politik telah menikmati hubungan yang panjang dan saling menguntungkan. Murdock menetapkan kontinuitas antara Williams humanis dan aula strukturalis di mana ekonomi politik memberikan konteks untuk produk media sebagai artefak budaya, sementara studi budaya meneliti bagaimana pencipta tertentu, artefak tertentu, atau konsumen tertentu yang beroperasi dalam konteks itu.
AGAMA ITU TEMPO DULU
Kesimpulan yang sudah dijelaskan diatas nampaknya akan menjadi masalah selama orang mengabaikan Murdock. Bagi Garnham, Grossberg, dan Carey, tujuannya tampaknya adalah pertukaran penghinaan, tuduhan, dan argumen yang dapat diprediksi. Bagi Garnham dan Grossberg, pertukaran hanyalah satu debat lagi dalam pertarungan yang sekarang dipraktekkan antara ekonomi politik dan studi budaya, yang terakhir dipahami sebagai "hal semacam" yang dilakukan oleh Hall dan Grossberg. Meskipun karikatur dan kepribadian membuat ritual dramatis, namun tidak secara khusus berkontribusi terhadap pemahaman media dalam kapitalisme. Pengambilan upacara agama yang terlalu serius akan menghalangi kemampuan perjanjian dengan fenomena kompleks yang mengurangi istilah media.
STEREOTYPES VS. JENIS PENELITIAN
Membangkitkan stereotip yang sesuai untuk ekonomi politik itu mudah. Dari dalam paradigma tersebut, ekonomi politik menyatakan dirinya sebagai sesuatu yang tidak produktif, berfokus pada kekuasaan, dan kritis. Ekonomi politik mengungkapkan cara kerja kapitalisme dalam struktur industri dan sistem politik yang menghasilkan lapangan bermain pepatah di mana orang mengkonsumsi media, membuat makna, dan mencari nafkah. Industri media dalam bisnis menciptakan hiburan yang menghasilkan pendapatan terutama dari pengiklan. Balasan stereotip yang memendang bahwa ekonomi politik begitu terfokus pada cara untuk menghasilkan model perusahaan yang sangat besar, monolitik dan berkuasa adalah tindakan yang sia-sia.
Selain Murdock banyak studi budaya dan ekonomi politik terpadu yang dilakukan selama dua dekade.Diantaranya Integrasi teladan ekonomi politik dan studi budaya dapat ditemukan dalam esai Stabile (1995), "Resistance, Recuperation, and Reflexivity: The Limits of Paradigma." Di sini, Stabile menjabarkan tiga tugas ambisius: tinjauan terhadap model perlawanan dan literatur penelitiannya, sebuah analisis kontekstual tentang teks "tahan", dan analisis kritis produksi akademis oleh para ilmuwan budaya. Ketika Stabile (1995) mengkontekstualisasikan Roseanne, pembacaan yang resisten lenyap. Akhirnya, Stabile (1995) beralih ke "industri perlawanan" untuk memeriksa kondisi kerja di mana kritikus akademis menghasilkan artikel. Jadi pembacaan sinkronis yang dilakukan oleh Stabile memberikan pesan bahwa pembacaan artefak media yang cermat dan kontekstual merupakan sebuah praktik yang memberikan kritik dengan peluang untuk interpretasi keratif dan baru. Selain itu, kondisi material produksi dan konsumsi akan memberikan konteks wawasan dan kesenangan kita.
MENUJU DIALOG KRITIS
Dialog membutuhkan rasa saling menghormati. Sebagian kegagalan musyawarah CMSC yakni berasal dari tidak adanya rasa hormat dan sebagian lain berasal dari penilaian yang berbeda dari penulis. Namun terlepas dari kegagalan perdebatan yang disosialisasiakan melalui “musyawarah” tersebut penulis (Eileen R Meehan) tetap berharap dialog antara studi budaya kritis dan ekonomi politik mungkin untuk dilakukan. sebuah dialog antara studi budaya kritis dan ekonomi politik tetap penting jika kita menghargai sepenuhnya fenomena kompleks yang runtuh ke dalam istilah media. Penulis juga menambahkan bahwa tugas kita adalah menerangi fenomena tersebut. Serta di luar ini, kita juga memiliki kewajiban untuk melacak proses dan dinamika di mana kumpulan elemen budaya yang sempit diabstraksikan dari dana gambar, informasi, representasi, data, visi, kepercayaan, penilaian, dan kemungkinan yang merupakan warisan manusia. Penarikan sumber akan menyatukan kita dengan mengintegrasikan perbedaan metode, teori, fokus, dan pengetahuan akan memperkuat kita. Biarkan perdebatan berakhir, mari memulai dialog !